Tetaplah Hidup Walau Tak Berguna
Tahun 2020 ini aneh. Di satu sisi, dunia secara harfiah sedang menutup pintunya. Rantai pasokan hancur, daya beli anjlok, dan ketidakpastian ada di level tertinggi.
Namun di sisi lain, jika kamu membuka LinkedIn atau Instagram, feed-mu kemungkinan besar dipenuhi oleh narasi toxic productivity. Orang-orang saling berteriak menyuruh kita memanfaatkan waktu WFH ini untuk membangun startup baru, belajar coding, beralih jualan frozen food, atau membaca 50 buku bisnis.
Jika bisnis atau karirmu sedang stagnan, tekanan ini bisa sangat menghancurkan. Kamu merasa gagal. Kamu merasa tidak berguna.
Di internet, ada sebuah kalimat satir yang belakangan sering dijadikan meme: "Tetaplah hidup walau tak berguna."
Sekilas terdengar seperti lelucon nihilis yang pesimis. Tapi dari kacamata strategi bisnis dan kelangsungan hidup perusahaan di tengah pandemi saat ini, kalimat itu mungkin adalah nasehat paling rasional yang bisa kamu pegang.
Keputusan Bisnis vs Kepanikan Pasar
Banyak keputusan digital yang terlihat taktis sebenarnya adalah keputusan bisnis
Saat grafik omzet terjun bebas, insting pertama banyak brand owner adalah panik. Mereka menekan tim marketing untuk membuat lebih banyak konten, menambah budget iklan di Meta atau Google Ads, atau memaksakan pivot produk yang melenceng jauh dari core positioning mereka.
Pertanyaannya: apakah masalahnya benar-benar ada di kurangnya reach atau traffic?
Tidak. Masalahnya ada di fundamental makro. Prioritas pengeluaran konsumen sedang bergeser drastis. Optimization tidak dapat menyelamatkan offer yang secara fundamental tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar yang sedang krisis
Jika kamu menjual paket liburan wisata atau katering pernikahan skala besar di tahun 2020, memaksakan tim SEO-mu untuk menulis artikel setiap hari tidak akan mendatangkan sales
Marketing adalah proses membuat pilihan berdasarkan hitung-hitungan ekonomi
"Tidak Berguna" Bukan Berarti Mati
Dalam konteks ekonomi 2020, menjadi "tidak berguna" (baca: tidak meluncurkan inovasi besar, tidak mencetak rekor penjualan, tidak melakukan ekspansi) adalah strategi pertahanan yang valid.
Mari kita lihat dari sisi unit economics
Menjaga Runway: Memotong biaya operasional yang tidak perlu agar napas bisnis bisa lebih panjang hingga badai reda.
Customer Retention: Berkomunikasi dengan pelanggan lama bukan untuk berjualan, tapi untuk merawat brand trust dan persepsi
. Hibernasi Terukur: Mengurangi kapasitas produksi secara sadar daripada menumpuk dead stock di gudang.
Jangan menghancurkan positioning bisnismu yang sudah dibangun bertahun-tahun hanya karena kepanikan sesaat
Metrik Baru: Survive.
Kita harus mengkalibrasi ulang apa arti "kesuksesan" di tahun ini.
Kamu tidak perlu membuktikan kepada siapa pun di media sosial bahwa bisnismu kebal terhadap krisis. Bisnis tidak melulu soal grafik yang harus selalu naik ke kanan atas. Ada kalanya grafik itu harus mendatar, atau bahkan turun, agar kamu bisa mengatur ulang napas.
Berhenti merasa bersalah jika kamu tidak seproduktif biasanya. Berhenti memaksa timmu melakukan eksekusi taktis yang tidak menyelesaikan akar masalah di level bisnis
Tarik mundur ekspektasimu. Evaluasi ulang runway keuanganmu.
Untuk tahun 2020, jika pada bulan Desember nanti kamu masih bisa membayar gaji karyawan, bisnismu belum bangkrut, dan kamu beserta keluargamu masih sehat secara fisik maupun mental—itu sudah merupakan kemenangan yang luar biasa.
Tetaplah hidup. Sisanya bisa kita bangun ulang nanti.
